Entri Populer

Tampilkan postingan dengan label Sepak Bola. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sepak Bola. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 Juli 2011

Messi Butuh 1.283 Gol, Jika Mau Sejajar Dengan Pele

Legenda sepakbola asal Brasil, Pele tidak terima disamakan dengan penyerang Barcelona, Lionel Messi. Menurut Pele, Messi harus mampu melampaui 1.283 gol untuk menjadi pemain terbaik dunia sepanjang masa.
Hal ini diungkapkan Pele usai menyaksikan penampilan klubnya di final Copa Libertadores, Kamis, 23 Juni 2011. Dalam duel yang sempat diwarnai perkelahian antar pemain ini, Santos berhasil mengalahkan Penarol dengan skor  2-1.
“Messi ingin lebih baik dari Pele? Untuk sampai ke sana, dia harus mampu mencetak lebih dari 1283 gol,” kata Pele seperti dilansir Goal.com.
Pada kesempatan yang sama, Pele telah yang merasakan tiga gelar juara dunia menyerang balik legenda sepakbola asal Argentina, Diego Maradona. Sebelumnya, Maradona menyebut sikap Neymar sama buruknya dengan Pele.
Pernyataan ini dilontarkan Maradona setelah Neymar yang menyatakan kalau dirinya mampu lebih baik dari Messi tanpa harus pindah ke Eropa. Neymar adalah pemain masa depan Brasil yang bermain untuk klub Santos.
“Neymar merupakan pemain bertalenta. Saya harap Neymar tidak berakhir seperti Messi yang mampu tampil baik bagi klubnya Barcelona, namun tak mampu berbuat apapun bagi negaranya (Argentina),” balas Pele.
Musim ini Messi mencetak 31 gol di La Liga dan 12 gol di Liga Champions. Satu gol dilesakkannya saat tampil di final Liga Champions di Wembley, Inggris. Hingga saat ini Messi telah mengoleksi total 150 gol bersma klub dan timnas Argentina.

Hanya Milan Era ’90 Yang Bisa Melawan Barca

Dengan permainan menyerang yang memukau, Barcelona akhirnya meraih gelar juara Eropa setelah menghempaskan Manchester United, 3-1 dalam Final Liga Champion, Sabtu kemarin, 28 Mei 2011. Permainan gemilang Barcelona pun menuai beragam pujian dari sejumlah pihak. Diantaranya pujian legenda hidup AC Milan, Franco Baressi.
Seperti dikutip dari Football Italia, Baresi bahkan menyimpulkan hanya usia yang dapat mengalahkan Barcelona yang saat ini dilatih oleh Pep Guardiola. “Kita harus menunggu mereka menjadi tua. karena tidak ada yang dapat meladeni permainan Barcelona untuk saat ini” ujar Baresi tersenyum.
Baresi sendiri melihat ada persamaan antara Barcelona saat ini dengan “Dream team” AC Milan era 90?. “Memang banyak pemain dan klub hebat yang terlahir, seperti Johan Cruyff dengan Ajax dan Franz Beckenbauer dengan Bayern Munich yang mencanangkan generasi baru,” kata Baressi.
“Tapi Barcelona saat ini, seperti Milan era saya. Saya meyakini mereka memiliki DNA kami. Karena siapapun lawan yang dihadapi, mereka (Barcelona) selalu mengambil inisiatif dan mendikte permainan selama pertandingan,” lanjutnya.
“Dalam hal teknik bermain, organisasi permainan, kemampuan mengumpan serta kemampuan individu pemain, Kami berdua (Barca-AC Milan) sejajar. Kami berdua telah mengubah sesuatu yang menjadi rutinitas dalam sepak bola,”
Baresi adalah kapten Il Grande Milan saat mendominasi sepakbola Eropa. Layaknya Barcelona, saat itu AC Milan yang dilatih Arrigo Sacchi bertaburan bintang lapangan hijau seperti Marco Van Basten, Ruud Gullit, Frank Rijkaard, Roberto Donadoni, dan Paolo Maldini.
Sepanjang era 1980-an hingga awal 90-an, Milan telah memenangkan banyak gelar seperti dua Piala Champions, dua piala Intercontinetal, dua Piala Super Eropa, satu Piala Super Italia dan Scudetto 1988-1990.
“Mungkin permainan Barcelona lebih spektakuler untuk disaksikan dibanding AC Milan, tapi saya yakin (Milan 90?) pasti dapat memberikan perlawanan sengit kepada mereka. Ah, betapa senangnya jika dapat melawan mereka,” harap Baresi.

10 Pesepakbola yang Loyal Terhadap Satu Klub..!!

Loyalitas bisa dikatakan hal yang langka saat ini. Tapi bukan berarti kesetiaan seorang pemain terhadap klub tidak pernah ada. Beberapa nama bahkan tak pernah berganti klub sejak memulai kariernya. Siapa saja mereka?
10. Pele
(Santos 1956-1974, New York Cosmos 1975-1976)
Pele memang mengakhiri kariernya di klub Amerika Serikat New York Cosmos. Namun sebagai pemain, ia lebih dikenal sebagai legenda Santos selama 18 tahun.
“Real Madrid menginginkan saya, bersama Manchester United dan Juventus,” katanya pada Eurocalcio dalam sebuah wawancara tahun 2009.
Pele menambahkan, “Presiden Juventus bahkan hampir mencapai kesepakatan dengan Santos termasuk dukungan dari (pabrikan mobil Italia) Fiat. Saya pikir saya akan bermain di Eropa, tapi saya lebih memilih tetap di tim yang ada di hati saya, Santos.”
9. Sepp Maier
(Bayern Muenchen 1962-1979)
Satu di antara segelintir kiper yang bertahan di satu klub – Bayern Muenchen. Maier menjadi andalan mistar the Bavarians selama 17 tahun. Ia meraih berbagai gelar termasuk Juara Dunia bersama nationalmannschaft pada 1974.
Maier hanya kalah oleh kiper Denmark Lars Hogh yang menghabiskan karier 23 tahun bersama Odense BK, tampil di lebih dari 800 pertandingan, sebelum pensiun tahun 2000.
8. Matthew Le Tissier
(Southampton 1986-2002)
Lahir di Guernsy Le Tiss, Tissier berpeluang memperkuat Prancis. Dengan talentanya dia bisa bersinar bersama Les Bleus ketimbang The Three Lions. Namun gelandang serang itu memilih tetap di Inggris meski hanya bermain 8 kali.
Suatu saat rekannya Alan Shearer mengajaknya bergabung ke Blackburn Rovers, sementara Manchester United juga tertarik. Le Tissier memilih tetap di Southampton sepanjang kariernya. Tak salah jika bintang Barcelona Xavi Hernandez mengaguminya dan menyebutnya ‘pemain sensational.’
7. Lev Yashin
(Dynamo Moscow 1949-1971)
Terpilih sebagai kiper terbaik Abad ke-20, Yashin dijuluki The Black Spider karena kemampuan refleknya yang luar biasa. Veteran di tiga Piala Dunia, Yashin menjadi satu-satunya kiper yang pernah memenangkan gelar Ballon d’Or pada 1963.
Ia menghabiskan seluruh 22 tahun kariernya bersama Dynamo Moscow. Ia tetap di klub tersebut dua dekade kemudian sebelum wafat tahun 1990.
6. Alessandro Del Piero
(Padova 1991-1993, Juventus 1993-sekarang)
Mampu menyingkirkan karier Roberto Baggio di Juventus Anda haruslah seorang pemain yang spesial. Itulah yang dilakukan Del Piero ketika Si Nyonya Tua merekrutnya dari Padova pada 1993.
Kerap diisukan pindah ke Spanyol dan Inggris, Del Piero yang kini berusia 36 tahun tetap bertahan di Turin. Ketika Fabio Capello pindah ke Real Madrid, dan Juventus terdepak ke Seri B, ia juga memilih bertahan.
“Juventus adalah bagian dari sejarah hidup saya. Saya tak bisa memikirkan saya memperkuat klub lain di Italia. Saya akan tetap di sini sampai akhir,” katanya pada Sky Italia.
5. Jan Ceulemans
(Lierske SK 1974-1978, Club Brugge 1978-1992)
Bagi pendukung Belgia, tentunya takkan bisa melupakan seorang pemain yang begitu dominan menguasai lini tengah Belgia di tahun 1980-an. Ia adalah kapten yang mengantar Belgia ke peringkat empat di Piala Dunia Meksiko 1986 dan pemegang rekor cap tim nasional dengan 96 penampilan.
Ceulemans menghabiskan seluruh kariernya di Belgia. Setelah memperkuat Lierse ia pindahke Brugge pada 1978 dan bertahan selama 14 tahun.
4. Carles Puyol
(Barcelona 1997-sekarang)
Jika AC Milan punya Paolo Maldini maka Barcelona punya Carles Puyol. Rasanya sulit membayangkan pemain 32 tahun yang gampang dikenali dengan rambut kriwilnya itu menggunakan kostum lain selain Blaugrana.
Setelah menembus tim utama pada 1999, ia sempat dirayu Manchester United yang menginginkannya pada 2003. “United salah satu tim terbaik dunia dan semua pemain akan senang bergabung. Jika memang ini bagus untuk klub saya akan pergi, tapi keinginan saya adalah tetap di sini.” katanya.”
3. Juan Carlos Plata
(Municipal 1990-2010)
Plata mungkin tak terkenal di Eropa, tapi di Amerika Tengah ia adalah mesin gol selama dua dekade. Striker ini memecahkan banyak rekor selama di Municipal, memenangkan 15 gelar dan mengejutkan Brasil ketika membuat gol balasan yang menahan raksasa dunia itu di Piala Dunia 1998.
2. Ryan Giggs
(Manchester United 1990-sekarang)
Sejak memulai kariernya di tim junior Manchester City, Giggs tak pernah lagi berniat meninggalkan The Red Devils. Ia menghabiskan lebih dari dua dekade di Old Trafford. AC Milan pernah menawarkan transfer luar biasa bagi Giggs demikian juga dengan presiden Inter Milan Massimo Moratti yang mengagumi pemain sayap asal Wales ini. Tahun 2003 Giggs dilamar Inter yang siap memberikan striker Brasil.
“Tak ada alasan serius kenapa saya harus meninggalkan klub ini. Memang pernah ada rumor pada 2002/2003 yang mengatakan saya bergabung dengan Inter tapi tak pernah terjadi,” katanya.
Dengan 11 gelar Liga Primer dan mungkin akan bertambah lagi, Giggs seperti bukan pemain yang sudah berusia 37 tahun.
1. Paolo Maldini
(AC Milan 1985-2009)
Bicara AC Milan maka bicara soal Paolo Maldini. Sejak memulai debutnya di umur 16 tahun, Maldini tak pernah meninggalkan Rossoneri. Ia memenangkan 7 gelar Scudetto dan 5 gelar Eropa, Maldini adalah ikon kesuksesan klub San Siro itu selama lebih dari 20 tahun.
Bersama Franco Baresi dan Giuseppe Bergomi, Maldini bertahan di Milan sepanjang kariernya. Ia sempat dirayu mantan rekannya Ruud Gullit untuk bergabung dengan Chelsea pada 1997 namun ia bertahan sampai mengakhiri karier pada 2009.
Nama Maldini sepertinya akan berlanjut karena dua anaknya Christian dan Daniel adalah pemain di klub junior Milan.

Siapa Saja 10 Pemain Top Dunia Yang Tidak Pernah Merasakan Piala Dunia?

Mungkin agan2 hobi nonton piala dunia selain ajang yang diikuti negara2 terbaik sepakbola tentunya juga karena pemain yang ikut juga yg punya kemampuan. Namun menjadi harapan semua pemain di dunia bisa unjuk kebolehan di Piala Dunia. Namun siapa sangka jika ada beberapa pemain hebat justru gagal tampil di event empat tahunan itu.  Ya, Cristiano Ronaldo bersama Portugal mungkin terancam tak unjuk kebolehan di Afrika Selatan. Namun, winger Real Madrid ini lebih bernasib baik dibanding nama-nama besar macam dua pendahulunya, George Best dan Alfredo di Stefano.
Jangan tanya kiprah Best di Manchester United atau Alfredo di Stefano bersama Real Madrid. Keduanya telah menjadi legenda.
Tapi, itu tidak terjadi di timnas. Merek masuk dalam daftar pemain top yang tak merasakan Piala Dunia sepanjang karirnya. Berikut 10 pemain top yang tak pernah merasakan Piala Dunia seperti dilansir Mirror Football:
10. Paulo Di Canio

Di balik sikap temperamennya, Paulo Di Canio tetap diakui sebagai pemain dengan skill di atas rata-rata. Penyerang asal Italia ini selalu tampil impresif bersama West Ham United. Sayangnya, ia tak pernah dipanggil masuk timnas
Azzurri. Ditengarai sifat temperamennya itu yang membuat pelatih-pelatih Italia enggan memanggilnya. Dino Zoff, mantan pelatih Azzurri, pernah berkata, “karena saya telah cukup punya masalah, saya tidak ingin menambahnya lagi.”
9. Jari Litmanen

The Flying Finn telah memenangkan beberapa gelar Liga Belanda bersama Ajax Amsterdam termasuk Liga Champions pada 1995 silam. Tak hanya itu, Litmanen juga menduduki peringkat 3 dalam voting Pemain Terbaik Eropa 1995. Karir gemilangnya terus berlanjut bersama Liverpool. Piala FA, Worthington Cup dan gelar UEFA Cup pernah dirasakannya bersama The Reds. Tapi di timnas, ikan besar di klub itu terlihat seperti ikan kecil. Alhasil bersama Finlandia, Litmanen selalu menemui kegagalan melaju ke Piala Dunia.
8. Matt Le Tissier
Tiga golnya saat timnas Inggris mengalahkan Rusia rupanya tak mampu membuat terkesan Glen Hoddle. Pelatih timnas Inggris ini tetap meninggalkan Le Tissier ke Piala Dunia 1998 Prancis. Namun, Hoddle pantas menyesal setelah Inggris tersingkir dalam drama adu penalti kontra Argentina. Pasalnya, Le Tiss dikenal sebagai eksekutor ulung yang dimiliki Inggris.
7. Bernd Schuster

Berbagai trofi juga telah dipersembahkan Bernd Schuster saat masih bermain untuk Barcelona dan Real Madrid. Termasuk saat merengkuh juara Euro 1980 bersama Jerman Barat. Tapi, perselisihannya dengan Asosiasi Sepakbola Jerman (DFB) saat itu membuatnya ditinggalkan di Piala Dunia 1982. Schuster mundur dari timnas saat usianya 24 tahun.
6. Ian Rush

Dialah salah satu putra terbaik Wales. Mesin gol Anfield ini dianggap menjadi salah satu striker menakutkan bersama Liverpool. Namun, sinar terang Rush akan meredup di timnas. Ian Rush seakan berjuang sendiri di timnas.
Alhasil, Ian Rush tak pernah mencicipi Piala Dunia karena Wales selalu gagal lolos.
5. Eric Cantona

Siapa tak kenal Eric Cantona. Penyerang yang dikenal dengan tendangan kungfu ini menjadi nyawa permainan Manchester United saat itu. Sempat dipanggil ke timnas pada 1987, namun pelatih timnas Prancis saat itu Henri
Michel berselisih dengannya. Michel sendiri akhirnya dipecat setelah Prancis gagal meraih tiket ke Piala Dunia 1990 Italia dan Amerika Serikat 1994. Sedangkan di Piala Dunia 1998, Cantona terganjal skorsing karena tendangan
kungfu saat memperkuat MU.
4. George Weah

Saat membaca CV George Weah, tentu sederet prestasi dapat menunjukkan kehebatannya. Pemain Terbaik Eropa, tiga kali Pemain Terbaik Afrika, Pemain Terbaik Afrika Abad ini dan berbagai trofi bersama Paris Saint-Germain dan AC
Milan. Weah juga tercatat sebagai top skorer Liga Champions pada 1994/1995. Namun di timnas Liberia, Weah seakan berjuang sendiri. Alhasil, Weah gagal beraksi di Piala Dunia 2002.
3. Ryan Giggs

Senasib dengan pendahulunya Ian Rush, Giggs bak matahari tertutup awan. Penampilan fantastisnya di Manchester United tak mampu mendongkrak timnas Wales yang saat itu memang bukan kekuatan sepakbola. Sempat ditawari timnas Inggris, Giggs lebih memilih tak merasakan Piala Dunia dibanding harus mengkhianti tanah leluhur.
2. Alfredo di Stefano

Tiga negara memperebutkan sosoknya. Ya, Alfredo di Stefano memang tercatat sebagai satu-satunya pemain yang memperkuat tiga negara yakni Argentina, Kolumbia atau Spanyol. Bersama Argentina, ia gagal tampil di Piala Dunia 1950 dan 1954. Sedangkan di PD 1958, timnas Spanyol gagal melaju. Di Piala Dunia Chile 1962, Alfredo di Stefano mengalami cedera.
1. George Best
Spoiler for George Best:
Dunia mengakui jika Pele, Diego Maradona dan George Best menjadi tiga pemain terbaik yang pernah ada. Namun, nasib menyedihkan harus diterima George Best. Di saat nama besar Pele dan Maradona telah dikultuskan dengan gelar Piala Dunia, tidak dengan Best. Mantan gelandang serang Irlandia Utara ini tak bisa mengangkat negaranya di pentas dunia. Irlandia tak mampu lolos ke Piala Dunia 1982 di Spanyol. (source)

Inilah 10 Bek Terbaik Sepanjang Masa

Bek atau pemain belakang adalah posisi yang sangat vital dalam dunia sepak bola, merekalah benteng pertahanan yang harus menjaga daerah pertahanan agar para striker lawan tidak dapat membobol pertahanan mereka dan kemudian mencetak gol. Bagi banyak orang , Bek-bek terbaik berasal dari italia, hal ini mungkin karna gaya permainan sepakbola italia memang mengandalakan pertahanannya. tapi ternyata tidak semua bek-bek terbaik di dunia berada di Italia,
Berikut adalah daftar 10 bek terbaik di Dunia sepanjang masa yang didasarkan pada prestasi dan skill rata-rata pemain selama masa bermain :
10. Daniel Passarella (Argentina)

Inilah pemain serba bisa dari Argentina. Jago bertahan maupun menyerang, dan membantu terciptanya peluang bagi rekan setimnya, sekaligus menyapu bersih usaha lawan-lawannya. Ia juga dikenal efektif dalam eksekusi penalti dan tendangan bebas. Dengan 134 gol dalam 451 pertandingan, ia pernah mencetak rekor sebagai bek paling haus gol sepanjang masa. Meski demikian, rekor yang sama di Serie A Italia masih menjadi miliknya hingga saat ini. Ia sering dibandingkan dengan Beckenbauer.
Prestasinya yang paling menonjol adalah dua kali juara dunia bersama Argentina, yaitu pada 1978 dan 1986. Ia juga memenangkan Liga Utama Argentina selama empat kali bersama River Plate.
9. Giacinto Facchetti (Italia)

Meski karirnya berawal sebagai pemain depan, Facchetti kemudian beralih menjadi salah satu bek paling efektif dalam sejarah sepakbola Italia. Rentetan gelar yang dikoleksinya antara lain adalah Scudetto pada 1963, 1965, 1966, dan 1971; Coppa Italia 1978; Piala European Champions Club (sekarang Liga Champions) 1964 dan 1965; Piala Intercontinental 1964 dan 1965, serta pemenang Euro 1968. Hebatnya lagi, semua gelar klubnya diraih bersama satu klub, yaitu Inter Milan.
Tak heran jika Pele memasukkannya dalam daftar FIFA 100.
8. Lothar Matthaus (Jerman)

Matthaus baru bermain sebagai pemain belakang saat usianya sudah merambah 30-an. Sebelumnya ia lebih banyak berada di lini tengah. Toh dimanapun ia bermain, Maradona menyebutnya sebagai rival terberat. Dan kenapa tidak? Tak kurang dari tujuh gelar Bundesliga pernah menjadi miliknya, ditambah dengan tiga Piala Jerman, sebuah mahkota Serie A, dua Piala UEFA, satu Kejuaraan Eropa, serta Piala Dunia. Komunitas sepakbola Jerman menobatkannya menjadi pemain terbaik pada 1990 dan 1999, dan FIFA pun tak segan memberikan gelar pemain terbaik dunia 1991 padanya.
Sayang karirnya sebagai pelatih tidak secemerlang itu. Ia dipecat dari timnas Hongaria dan Red Bull Salzburg.
7. Fabio Cannavaro (Italia)

Kapten Italia ini merupakan bek pertama yang dinobatkan menjadi Pemain Terbaik Dunia oleh FIFA setelah Italia menjuarai Piala Dunia pada 2006. Pada tahun yang sama, ia juga memenangi gelar Pemain Terbaik Eropa, dan dua kali terpilih dalam pasukan FIFPro World XI, yaitu pada 2005/06 dan 2006/07.
Sayang, walau pernah meraih gelar juara La Liga dua kali dengan Real Madrid, ia belum pernah menang di Serie A.
6. Roberto Carlos (Brasil)

Roberto Carlos tampil di tiga Piala Dunia bersama Brasil. Selain membawa timnya ke final 1998, ia juga menjadi pemain kunci pada saat Brasil menang empat tahun kemudian. Kontribusinya sebagai pengeksekusi tendangan bebas juga tidak bisa diremehkan, termasuk pada 3 Juni 1997, ketika ia mencetak gol dari jarak 35 m saat melawan Prancis.
Di Real Madrid, ia meraih empat gelar juara La Liga, tiga Liga Champions dan dua Piala Intercontinental. Ia juga merupakan salah satu dari enam pemain yang tampil lebih dari seratus kali di Liga Champions. Pele memasukkannya dalam daftar 125 pemain sepakbola terhebat sepanjang masa pada Maret 2004. Ia juga mendapat pengakuan sebagai legenda sepakbola internasional, dengan diberikannya Penghargaan Kaki Emas 2008.
5. Lilian Thuram (Prancis)

Bek Prancis paling sukses, dengan koleksi berbagai trofi dari empat klub di tiga negara, dan dua gelar internasional bersama timnas Prancis. Kemampuannya dalam membaca permainan dan menempatkan diri di lapangan membuatnya berbeda dari pemain bertahan kebanyakan.
Ia telah tampil dalam 142 pertandingan untuk Prancis, yang menjadikannya pemain yang paling sering diturunkan. Meski kurang mendapat pujian jika dibandingkan dengan bintang Prancis lainnya, seperti Zinedine Zidane dan Theirry Henry, perannya di timnas tidak kalah pentingnya. Ia membantu Prancis memenangkan Piala Dunia 1998 dan Piala Eropa 2000.
4. Franco Baresi (Italia)

Baresi menggawangi lini bertahan AC Milan dalam masa yang oleh banyak pengamat dinyatakan memiliki empat bek terbaik sepanjang sejarah, yaitu ia sendiri, Paolo Maldini, Alessandro Costacurta dan Mauro Tassotti. Ia juga menghabiskan seluruh karirnya di AC Milan dengan 532 pertandingan.
Ia mengoleksi enam Scudetto, tiga Piala Eropa dan Piala Dunia 1982, walau hanya sebagai cadangan. Paolo Maldini banyak berguru padanya, dan bahkan perkembangan karirnya kemudian mirip dengan Baresi. Ketika kemudian ia gantung sepatu, Milan memutuskan untuk menyimpan nomor punggung 6 yang selalu dikenakannya, sebuah penghargaan yang jarang dilakukan di Italia.
3. Bobby Moore (Inggris)

Pemain bertahan yang tenang, Moore banyak dipuji karena kemampuannya dalam membaca arah pertandingan dan mengantisipasi pergerakan lawan. Ia bukan bek yang hanya mengandalkan tekel keras. Pele menyebutnya sebagai pemain bertahan paling jujur yang pernah dilawannya.
Pada 29 Mei 1963, ia menerima ban kapten timnas Inggris ketika baru berusia 22 tahun, dan menjadi kapten tim senior Inggris termuda sepanjang masa. Prestasi terbesarnya adalah membawa Inggris menjuarai Piala Dunia 1966.
2. Paolo Maldini (Italia)

Ia tidak hanya hebat karena memiliki kesetiaan yang besar kepada klubnya, AC Milan. Lebih dari itu, ia adalah bek paling berprestasi. Bersama Milan, ia meraih tujuh Scudetto dan lima titel Liga Champions. Sebagai pemain yang paling banyak tampil untuk timnas Italia, Ia juga menjadi langganan tetap gelar pemain terbaik sepanjang karirnya. Tidak kurang dari Lilian Thuram pernah mengakui ingin sepertinya.
Satu-satunya kekurangannya adalah ia tidak pernah merasakan juara Piala Dunia.
1. Franz Beckenbauer (Jerman)

Italia boleh saja menyumbangkan banyak nama dalam daftar ini. Tapi, tidak ada yang lebih patut berada di posisi puncak daripada “Sang Kaisar”. Buktinya, banyak pemain yang merasa bangga jika dibandingkan dengannya. Selain seabrek trofi yang dikoleksinya, kejeniusannyalah yang membuat ia menjadi sosok yang susah dilupakan. Sepak terjangnya di lapangan sangat elegan.
Lebih dari itu, ia adalah pemikir ulung yang membawa revolusi di dunia sepakbola dengan menciptakan peran libero menyerang. Sebelumnya, tak seorangpun pernah berpikir bahwa seorang sweeper juga perlu untuk maju untuk membantu penyerangan, apalagi mencetak gol. Beckenbauer menciptakan taktik ini, dan menjadikannya sebagai bagian dari sepakbola modern.

5 Pemain Termuda di Copa America 2011

Setiap perhelatan even akbar seperti Piala Dunia, Euro, ataupun Copa Amerika, pemain-pemain muda berkesempatan menunjukkan talentanya. Apalagi jika mereka cukup berbakat untuk menembus tim utama. Jika mereka tampil ciamik, bukan tak mungkin klub-klub elit baik di Eropa atau di Amerika Latin mengontrak mereka. Imbasnya, tak hanya popular, bayaran yang besar pun menanti mereka. Berikut pemain-pemain tersebut:
1.Diego Reyes (Meksiko)-18 Tahun (19/09/1992)
Diego Reyes (Meksiko)-18 Tahun (Sumber: ca2011.com)
Skandal doping yang menimpa timnas Meksiko lalu, memaksa Meksiko untuk turun dengan pasukan mudanya saat tampil di Copa America 2011. Kesempatan ini juga sekaligus dimanfaatkan untuk mengasah talenta muda mereka, untuk kejuaraan selanjutnya. Salah satunya Diego Reyes. Pemain yang memperkuat tim America (Meksiko) ini menjadi pilihan utama di sektor belakang El Tricolor. Di usianya yang relatif muda, permainannya cukup tenang. Tackle nya pun cukup rapi, pemain ini berpotensi untuk menjadi bek tangguh di masa mendatang.

2.Lucas (Brazil)- 18  Tahun (13/08/1992)
Lucas (Brazil)- 18 Tahun (Sumber: ca2011.com)

Selain muda, ukuran tubuhnya pun cukup mungil, ‘hanya’ 1.72 m. Meskipun demikian, Lucas merupakan gelandang bertahan yang cukup kuat. Di Copa America kali ini, pemain yang membela tim Sao Paulo ini sudah tampil sekali. Menggantikan Ramires saat berhadapan dengan Paraguay, ia memberi warna baru bagi permainan Brazil yang saat itu ketinggalan 2-1. Brazil pun akhirnya terhindar dari kekalahan berkat gol Fred, di menit-menit akhir pertandingan.
3.Fransisco Calvo (Kosta Rika)-(08/07/1992) 19 Tahun
Fransisco Calvo (Kosta Rika) (Sumber: ca2011.com)
Ia merupakan pemain termuda di squadnya. Meskipun demikian ia langsung mendapat kepercayaan Ricardo La Volpe, Pelatih Kosta Rika saat ini. Buktinya, di tiga laga Kosta Rika di babak penyisihan ini, ia selalu tampil sebagai starter. Tangguh dan tanpa kompromi, begitulah karakternya. Anak muda ini menjadi bek yang diandalkan oleh negaranya.
4.Kristian Álvarez (Meksiko)- 19 Tahun (20/04/1992)
Kristian Álvarez (Meksiko)- 19 Tahun (Sumber: ca2011.com)



Pemain muda lain yang dibawa timnas Meksiko. Pemain yang biasa diposisikan sebagai bek tengah ini bermain untuk klub Chivas Guadalajara (Meksiko). Di Copa America 2011, ia belum tampil sekalipun. Stok bek tengah Meksiko yang cukup melimpah, membuat pemain berusia sembilan belas tahun ini kesulitan menembus tim utama. Tapi, pengalaman di Copa America tentu menjadi modal berharga untuk karirnya.
5.Néstor Araujo (Meksiko)- 19 (29/08/1991)
Néstor Araujo (Meksiko) (Sumber: ca2011.com)

Berposisi asli sebagai bek, pemain yang membela Cruz Azul di liga Meksiko ini bisa juga dipasang sebagai gelandang. Ia sudah mencetak satu gol di pagelaran Copa America 2011 ini. Sayang golnya tersebut tak mampu menghindarkan timnya dari kekalahan saat berhadapan dengan kesebelasan Chile.  (**)

8 Pemain Bola yang Dipulangkan Pada Saat Even Piala Dunia


1. Sigmund Haringer, Jerman, 1934
Bek Jerman ini diduga absen pada pertandingan play-off perebutan posisi ketiga demi memenuhi hasratnya makan sebuah jeruk di peron stasiun kereta api, tanpa permisi. Federesi sepak bola Jerman (DFB) membantah hal ini, dan mengatakan sang pemain dipulangkan karena sakit.
2. Ernst Jean-Joseph, Haiti, 1974
Pemain Haiti ini dipulangkan karena gagal melakukan tes doping setelah timnya kalah 1-3 dari Italia.
3. Willie Johnston, Skotlandia, 1978
Pemain sayap ini ditendang keluar dari skuad Skotlandia karena gagal melewati tes doping setelah mereka kalah dari Peru pada babak penyisihan grup.
4. Uli Stein, Jerman Barat, 1986
Penjaga gawang ini dipulangkan lebih awal karena dia menjadikan pelatih Jerman Barat Franz Beckenbauer bahan tertawaan.
5. Stefan Effenberg, Jerman, 1994
Gelandang elegan ini menunjukkan sikap yang kasar kepada suporter, setelah dia ditarik keluar, saat Jerman meraih kemenangan atas Korea Selatan dalam pertandingan penyisihan grup.
6. Diego Maradona, Argentina, 1994
Playmaker Argentina ini harus dipulangkan lebih awal karena gagal melewati tes doping, setelah timnya memenangkan duel melawan Nigeria pada penyisihan grup.
7. Roy Keane, Irlandia, 2002
Kapten Irlandia ini meninggalkan kamp tim, setelah terlibat sedikit pertengkaran dengan pelatih Mick McCarthy, terkait kualitas fasilitas latihan. Pemain tengah ini memberikan kritik dalam sebuah wawancara dengan suratkabar.
8. Nicolas Anelka, Perancis, 2010
Striker Perancis ini terlempar dari skuad Perancis, karena mengeluarkan kata-kata tidak sopan kepada pelatih Raymond Domenech pada saat turun minum, dalam pertandingan melawan Meksiko di mana Perancis kalah 0-2. Anelka dipulangkan dan dikeluarkan dari timnas perancis dan juga menolak meminta maaf.

Kiper-kiper terbaik di Piala Dunia..!!

Dalam pertandingan sepakbola, setiap lini dalam tim memiliki peran penting. Namun ada satu posisi yang paling krusial. Satu tim dipastikan mengalami kekalahan bila bertanding tanpa didampingi kiper.
Selain striker atau bomber paling berbahaya, setiap kali Piala Dunia digelar juga diumukan penjaga gawang terbaik. Pilihan terbaik merupakan penilaian yang dilakukan oleh Tim Studi Teknis Badan Sepakbola Dunia (FIFA).
Setiap kiper terbaik berhak menggenggam penghargaan Yashin. Nama Yashin sendiri merupakan kiper legendari asal Rusia Lev Yashin yang mengantongi berbagai gelar bergengsi.
Mantan kiper Timnas Inggris Gordon Banks dan Italia Dino Zoff pernah dianugerahkan gelar tersebut.
Bagaimana dengan Piala Dunia 2010 ini? Siapakan kiper yang bakal menunjukkan talenta terbaiknya sepakan turnamen?
Berikut kiper terbaik Piala Dunia:
Piala Dunia 1930 di Uruguay
Enrique Ballesteros (Uruguay)

prestasi=membawa uruguay juara piala dunia yang pertama 1930
Piala Dunia 1934 di Italia
Ricardo Zamora (Spanyol)

Ricard Zamora Martínez (Ricardo Zamora) (21 Januari 1901 – 15 September 1978) merupakan seorang pemain dan pelatih sepak bola berkebangsaan Spanyol. Dia bermain untuk klub Espanyol, FC Barcelona, Espanyol, Real Madrid, dan OGC Nice.
Klub yang pernah ia latih adalah OGC Nice, Atlético Aviación, Celta de Vigo, CD Málaga, Spanyol, dan RCD Español
Piala Dunia 1938 di Prancis
Frantisek Planicka (Rep Ceska)
http://i48.tinypic.com/2lazseq.jpg
Piala Dunia 1950 di Brasil
Roque Maspoli (Uruguay)

Roque Gastón Máspoli (12 Oktober 1917 di Montevideo – February 22, 2004 di Montevideo) adalah seorang Uruguay football player dan pelatih.Dia adalah penjaga gawang untuk tim nasional Uruguay yang memenangkan Piala Dunia 1950
Piala Dunia 1954 di Swiss
Gyula Grosics (Hungaria)

Gyula Grosics (Hungaria pengucapan: [?ul? ?ro?it?]; lahir 4 Februari 1926 di Dorog) adalah Hungaria mantan sepak bola penjaga gawang yang bermain 86 kali untuk Hungaria Tim nasional sepak bola dan merupakan bagian yang legendaris Tim Emas dari tahun 1950-an.Dia dijuluki Black Panther (Hungaria: Fekete Párduc)
Dia adalah seorang peserta di tiga Piala Dunia berturut-turut, Piala Dunia FIFA 1954, Piala Dunia FIFA 1958 dan Piala Dunia FIFA 1962. Dalam karir klub, ia bermain untuk klub Hungaria MATEOSZ, Budapest Honvéd FC dan Tatabányai Bányász, di mana ia pensiun pada tahun 1962
Piala Dunia 1958 di Swedia
Harry Gregg (Irlandia Utara)


Harry Gregg, MBE (lahir 25 Oktober 1932)
Dia kadang-kadang disebut “The Hero of Munich ‘karena dia menarik beberapa dari teman-teman timnya dari pesawat yang terbakar selama bencana udara Munich termasuk Bobby Charlton, Jackie Blanchflower dan Dennis Viollet
Piala Dunia 1962 di Chili
Viliam Schrojf (Rep Ceska)


Dia adalah seorang peserta di tiga Piala Dunia berturut-turut Piala Dunia FIFA 1954, Piala Dunia FIFA 1958 dan pada Piala Dunia FIFA 1962, di mana Cekoslowakia mengejutkan dunia dan pergi melalui ke final, kalah dari juara Brasil. Keberhasilan Cekoslowakia sebagian besar disebabkan oleh kinerja Schrojf yang luar biasa.. Namun akhir terbukti menjadi hari hitam untuk Schrojf, dengan dua gol Brasil dihasilkan dari kesalahannya. Dengan negaranya memimpin 1-0, Setengah jalan melalui babak kedua, dengan 1-2 , matahari masuk ke matanya dan gagal untuk menangkap bola yang sederhana dengan benar, yang mendarat langsung di kaki VAVA, yang mengambil kesempatan untuk menjadi pemain pertama kalinya mencetak gol dalam dua final Piala Dunia yang berbeda
Piala Dunia 1966 di Inggris
Gordon Banks (Inggris)


Gordon Banks (lahir pada 30 Desember 1937 di Sheffield) merupakan mantan pemain sepak bola berkebangsaan Inggris. Dia pernah bermain untuk tim Chesterfield F.C., Leicester City F.C., Stoke City F.C., dan Fort Lauderdale Strikers. Di timnas Inggris, dia bermain 73 kali. Berposisi sebagai kiper. Dia pernah membela timnas Inggris pada Piala Dunia FIFA 1966 dan Piala Dunia FIFA 1970. Dia berhasil membawa timnya meraih juara Piala Dunia FIFA 1966
Piala Dunia 1970 di Meksiko
Ladislao Mazurkiewicz (Uruguay)


Ladislao Mazurkiewicz (lahir 14 Februari 1945 umur 63, di Piriápolis) adalah sebuah Uruguay mantan sepak bola penjaga gawang dari tahun 1960-an dan 1970-an. . Dia membantu tim nasional Uruguay untuk lolos ke semifinal dari Piala Dunia 1970, di mana charrúas dihentikan oleh akhirnya juara, Brasil.Ia terpilih sebagai penjaga gawang terbaik dari turnamen.
Ia mungkin paling terkenal sebagai penjaga yang jatuh untuk Pelé ‘s sensasional trik di Final Piala Dunia 1970 ketika ia membiarkan bola melewati menjalankan satu Mazurkiewicz dan ia berlari yang lain, sebelum hampir mencetak dengan tembakan saat ia menoleh ke belakang ke arah tujuan.
Lev Yashin, penjaga gawang dianggap terbaik sepanjang masa mengatakan Ladislao adalah penggantinya.. Mazurkewicz menghabiskan hari-harinya sebagai seorang pelatih bagi penjaga gawang untuk Peñarol. . Dia adalah keturunan Polandia sepanjang salah seorang kerabat. Beberapa orang dan penggemar menganggapnya sebagai penjaga gawang Uruguay yang terbaik dan salah satu yang terbaik datang dari Amerika. Dengan Penarol ia memenangkan 5 kejuaraan nasional serta Copa Libertadores kemudian pada tahun 1966 Copa Intercontinental bermain melawan Real Madrid menang dengan agregasi 4-0.Selama karir internasional 1965-1974, Mazurkiewicz mendapatkan total dari 44 penampilan bersama tim nasional Uruguay
Piala Dunia 1974 di Jerman Barat
Jan Tomaszewski (Polandia)
http://i48.tinypic.com/34nhcpl.jpg
Piala Dunia 1978 di Argentina
Ubaldo Fillol (Argentina)
http://i49.tinypic.com/wi94q8.jpg
Piala Dunia 1982 di Spanyol
Dino Zoff (Italia)

Dino Zoff (lahir 28 Februari 1942) adalah penjaga gawang Tim nasional sepak bola Italia dan pemain tertua yang pernah menjuarai Piala Dunia FIFA, ketika ia menjadi kapten Italia pada Piala Dunia FIFA 1982 di Spanyol, saat berumur 40 tahun.
Ia mempertahankan rekor terlama tanpa kebobolan dalam turnamen internasional (1142 menit) antara 1972 dan 1974. Dengan 112 penampilan ia adalah yang ketiga terbanyak setelah Paolo Maldini dan Fabio Cannavaro
Piala Dunia 1986 di Meksiko
Harald Schumacher (Jerman)

Harald Anton Schumacher (lahir 6 Maret 1954) merupakan mantan pemain sepak bola berkebangsaan Jerman. Dia pernah bermain untuk klub utamanya seperti 1. FC Köln, FC Schalke 04, Fenerbahçe SK, FC Bayern München, dan Borussia Dortmund
Piala Dunia 1990 di Italia
Sergio Goycoechea (Argentina)

Goycochea adalah pengganti Nery Pumpido baik di River Plate dan di tim nasional Argentina, dan mendapatkan terobosan besar dalam Piala Dunia 1990, ketika Pumpido terluka melawan Uni Soviet.Goycochea kemudian menjadi penjaga gawang utama,Dalam tendangan penalti dalam pertandingan babak perempat final melawan tim Yugoslavia, Dalam pertandingan semifinal melawan Italia, ia menyelamatkan tendangan penalti di tendangan penalti dari pemain Roberto Donadoni dan Aldo Serena. Ia memenangkan permainan-tendangan penalti di final Piala Dunia 1990 melawan Jerman, yang kalah 0-1 argentina. Dia terpilih sebagai penjaga gawang di Piala’s All-Star Team
Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat
Michel Preud’homme (Belgia)


Michel Preud’homme (lahir 24 Januari 1959) merupakan mantan pemain sepak bola dan pelatih berkebangsaan Belgia yang kini melatih untuk klub K.A.A. Gent. Dia bermain untuk klub Standard Liège, KV Mechelen, dan Benfica
Piala Dunia 1998 di Prancis
Fabien Barthez (Prancis)
http://i48.tinypic.com/23ux91x.jpg
Piala Dunia 2002 di Korea/Japan
Oliver Kahn (Jerman)
http://i48.tinypic.com/1z3cens.jpg
Piala Dunia 2006 di Jerman
Gianluigi Buffon (Italia)